lenterapos.com – Kalimantan Timur kini menghadapi dilema besar Pembangunan pesat di sektor pertambangan perkebunan dan kehutanan ternyata membawa dampak tak terduga Satwa endemik Orangutan morio Pongo pygmaeus morio semakin sering terlihat di jalan tambang kawasan industri bahkan permukiman warga Fenomena ini bukan sekadar kebetulan melainkan sinyal bahaya akan tekanan serius terhadap habitat alami mereka
Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam BKSDA Kalimantan Timur mengungkap fakta mencengangkan Sepanjang tahun 2024 setidaknya 31 individu orangutan terpaksa dievakuasi dari berbagai titik konflik Angka ini bahkan melonjak drastis menjadi 37 individu hanya dalam dua bulan pertama tahun 2025 Peningkatan signifikan ini menunjukkan bahwa ruang gerak orangutan kian menyempit dan konflik dengan manusia tak terhindarkan

Lembaga Conservation Action Network CAN menyoroti akar masalahnya Sebagian besar habitat penting orangutan di Indonesia ternyata berada di luar kawasan konservasi formal Menurut CAN sekitar 80 persen keanekaragaman hayati vital di tanah air termasuk 76 persen populasi orangutan hidup di luar area perlindungan resmi Dari total 14 juta hektare habitat orangutan di Indonesia hanya seperempatnya saja yang masuk kawasan konservasi sisanya tersebar di hutan produksi perkebunan pertambangan dan area penggunaan lain

Related Post
Kondisi ini menegaskan bahwa pendekatan konservasi tradisional yang hanya berfokus pada kawasan lindung sudah tidak lagi memadai Sebuah strategi baru berbasis lanskap kini menjadi harapan masa depan konservasi di Indonesia Areal Preservasi Lanskap Keraitan di Kalimantan Timur hadir sebagai model percontohan pertama penerapan konsep revolusioner ini
Kepala BKSDA Kalimantan Timur Ari Wibawanto menjelaskan Lanskap Kutai yang membentang dari Sungai Mahakam hingga Sungai Kelay seluas 42 juta hektare merupakan rumah bagi orangutan morio Lanskap ini terbagi menjadi delapan sub-lanskap salah satunya Keraitan yang mencakup 560 ribu hektare Ironisnya di kawasan Keraitan inilah berbagai bentuk penggunaan lahan seperti tambang batubara perkebunan kelapa sawit hutan tanaman industri dan permukiman berbaur Akibatnya 70 persen konflik orangutan di Kalimantan Timur justru terjadi di lanskap Keraitan
Melihat urgensi ini Forum Konservasi Orangutan Terpadu dibentuk Forum ini mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah dunia usaha akademisi hingga masyarakat Tujuannya adalah merancang pembangunan yang selaras dengan upaya konservasi sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2023 yang mengamanatkan integrasi aspek lingkungan dalam setiap proses pembangunan
Pendekatan baru ini berfokus pada pembentukan Areal Preservasi Habitat Orangutan sebagai model pertama di Indonesia Konsultasi publik telah dilakukan untuk menyusun Peta Indikatif Areal Preservasi Habitat Orangutan Lanskap Keraitan Fragmentasi habitat akibat pembangunan menjadi penyebab utama orangutan muncul di area manusia Terpecahnya kawasan alam luas menjadi petak-petak kecil membuat populasi orangutan terisolasi
Dengan adanya areal preservasi ini ruang jelajah dan akses pakan satwa dapat dipertahankan Ini penting untuk menjaga pertukaran genetik antarpopulasi serta menekan risiko konflik dan kematian satwa Mengingat 76 hingga 78 persen populasi orangutan di lanskap Keraitan hidup di luar kawasan perlindungan formal keberadaan koridor ekologis menjadi sangat krusial
Ketua Forum Konservasi Orangutan Terpadu Lanskap Keraitan Yaya Rayadin seorang akademisi dari Universitas Mulawarman memberikan contoh nyata Sebuah kawasan konservasi komunal seluas 49 hektare di tengah perkebunan sawit berhasil meningkatkan populasi orangutan dari enam menjadi sebelas individu dalam waktu singkat Fakta ini membuktikan bahwa satwa dapat bertahan jika konektivitas habitat terjaga melalui koridor yang memadai bahkan dengan rekayasa sederhana seperti jembatan kanopi buatan
Forum ini juga berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di setiap perusahaan agar pemahaman konservasi tidak hanya terbatas pada perwakilan di forum tetapi juga meresap hingga tingkat operasional Berbagai pihak seperti Kementerian Kehutanan BKSDA Kalimantan Timur pemerintah daerah organisasi konservasi dan perusahaan pemegang konsesi di Kutai Timur kini bersatu padu menyusun langkah bersama menjaga habitat Orangutan morio
Komitmen bersama ini melibatkan Kementerian Kehutanan BKSDA Kalimantan Timur Unit Pelaksana Teknis Daerah UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi KPHP Bengalon organisasi konservasi CAN dan Ecositrop serta sejumlah akademisi Area preservasi yang diusulkan mencakup sekitar 101 ribu hektare menghubungkan berbagai kantong habitat orangutan di sekitar Hutan Lindung Keraitan dengan tutupan vegetasi yang masih sangat baik sekitar 94 persen
Sektor swasta juga turut ambil bagian Perusahaan pertambangan seperti PT Kaltim Prima Coal KPC PT Ganda Alam Makmur PT Indexim Coalindo dan PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara bergabung Dari sektor kehutanan ada PT Kelawit Wanalestari PT Kiani Lestari PT Multi Kusuma Cemerlang PT Panambangan PT Santan Borneo Abadi PT Segara Indochem PT Sylva Selaras Utama dan PT Sumalindo Alam Lestari II Sektor perkebunan sawit juga hadir di antaranya PT Anugerah Lahan Kaltim PT Sawit Prima Nusantara PT Bima Agri Sawit PT Bima Palma Nugraha PT Multi Pacific International serta PT TELEN
Perusahaan-perusahaan ini secara rutin memetakan temuan satwa di wilayah operasional mereka Ketika orangutan ditemukan koordinasi segera dilakukan dengan BKSDA Kalimantan Timur dan organisasi konservasi untuk penanganan termasuk translokasi jika diperlukan
Dengan kolaborasi lintas sektor ini Lanskap Keraitan diharapkan tidak hanya menjadi benteng terakhir bagi Orangutan morio di Kalimantan Timur Lebih dari itu ia diharapkan menjadi contoh nasional bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian keanekaragaman hayati dapat berjalan beriringan melalui tata kelola yang terintegrasi Intinya pembangunan harus terus berjalan namun isu lingkungan wajib diperhatikan dan menjadi tanggung jawab kita bersama








Tinggalkan komentar