Terkuak! Rahasia Dapur Ramadhan NTB: Stabil atau Panik?

Terkuak! Rahasia Dapur Ramadhan NTB: Stabil atau Panik?

Lentera Pos- Setiap menjelang Ramadhan, denyut nadi pasar tradisional seolah berdetak lebih kencang. Lorong-lorong yang semula lengang kini dipadati hiruk-pikuk, diiringi bisikan-bisikan tentang harga beras, cabai, telur, dan daging. Sebuah ritual tahunan yang memadukan kegembiraan menyambut bulan suci dengan kecemasan klasik: akankah harga kebutuhan pokok tetap bersahabat di tengah lonjakan permintaan? Pertanyaan inilah yang kini menjadi fokus utama, terutama di Nusa Tenggara Barat (NTB), di mana pemerintah berupaya keras memastikan dapur masyarakat tetap tenang.

Di berbagai pasar rakyat NTB, aktivitas jual beli mulai meningkat signifikan. Permintaan merangkak naik, dan perhatian publik terpaku pada satu isu krusial: stabilitas harga dan ketersediaan pasokan. Bagi komunitas yang sebagian besar masih sangat bergantung pada pasar tradisional, gejolak harga sekecil apa pun dapat segera mengikis daya beli dan menciptakan suasana batin yang kurang nyaman menjelang Ramadhan.

Terkuak! Rahasia Dapur Ramadhan NTB: Stabil atau Panik?
Gambar Istimewa : img.antaranews.com

Pemerintah daerah di NTB, belajar dari pengalaman masa lalu, telah mengoptimalkan pengawasan harga dan stok sejak awal Januari. Dinas Perdagangan Kota Mataram, misalnya, secara rutin memantau 19 pasar tradisional, dengan tiga pasar utama—Kebon Roek, Pagesangan, dan Mandalika—berfungsi sebagai acuan harga. Hasil pemantauan awal menunjukkan sinyal positif: sebagian besar kebutuhan pokok masih terpantau stabil. Beras medium terpantau stabil di kisaran Rp13.000 per kilogram, sementara beras premium tetap sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp14.900 per kilogram.

COLLABMEDIANET

Jaminan ketersediaan juga cukup melegakan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB mencatat cadangan beras di Bulog mencapai sekitar 154 ribu ton, cukup untuk kebutuhan enam hingga sepuluh bulan ke depan. Dari perspektif makro, ruang kepanikan terkait stok seharusnya tidak ada. Ini mengindikasikan bahwa negara hadir dan tidak absen dalam menjaga stabilitas.

Namun, dinamika pasar jauh lebih kompleks dari sekadar angka stok. Ia juga dipengaruhi oleh faktor musim, psikologi konsumen, dan kelancaran distribusi. Komoditas seperti cabai rawit menjadi barometer paling sensitif. Akhir Januari lalu, harganya melonjak drastis dari Rp30.000–Rp35.000 menjadi Rp65.000 per kilogram, dipicu oleh cuaca ekstrem berupa hujan dan angin kencang yang mengganggu panen serta jalur distribusi. Fluktuasi serupa, meski tidak setajam cabai rawit, juga terjadi pada bawang merah dan cabai merah besar. Ini menunjukkan bahwa ketersediaan stok di gudang makro tak selalu berbanding lurus dengan stabilitas harga di tingkat mikro. Sebuah paradoks pasar yang kerap memicu persepsi kelangkaan, mendorong pembelian panik, dan menciptakan gejolak tak terduga.

Data inflasi Kota Mataram pada awal 2026 tercatat 3,69 persen secara tahunan, masih di bawah inflasi provinsi 3,86 persen. Kenaikan harga emas, bukan bahan pokok, menjadi faktor utama pendorong inflasi. Ini memberi sinyal bahwa tekanan harga bahan pokok belum bersifat sistemik. Meskipun demikian, Ramadhan selalu menjadi periode sensitif yang membutuhkan kewaspadaan ekstra. Peningkatan konsumsi rumah tangga yang signifikan, ditambah dengan faktor psikologis ‘musim belanja’, bisa menjadi pemicu tak terduga bagi pergerakan harga. Pemerintah terus berupaya melalui pasar murah dan program desa berdaya, mengirimkan pesan tegas bahwa solidaritas harus menguat, bukan kecemasan harga. Tantangan kini adalah bagaimana menjaga optimisme ini tetap menyala di setiap dapur masyarakat.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar