Lentera Pos- Teheran, Iran – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, baru-baru ini melontarkan peringatan keras yang menggema di seluruh kawasan Timur Tengah. Menurut Ghalibaf, stabilitas dan perdamaian di wilayah yang bergejolak ini tidak akan pernah tercapai selama keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat masih menjadi kenyataan.
Pernyataan tegas ini disampaikan Ghalibaf melalui platform X, menegaskan bahwa "kebijakan pertahanan Republik Islam Iran konsisten, berlandaskan pedoman Imam kita yang telah gugur sebagai syahid." Ia menambahkan, "Selama keberadaan pangkalan AS di kawasan ini berlanjut, negara-negara tersebut tidak akan menikmati perdamaian." Pernyataan ini bukan sekadar retorika biasa, melainkan cerminan dari keyakinan mendalam yang telah lama menjadi pilar doktrin keamanan Iran, yang memandang kehadiran militer asing sebagai sumber utama ketidakstabilan dan provokasi di wilayah tersebut.

Peringatan Ghalibaf ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional yang mencapai puncaknya. Sebelumnya, Iran telah melancarkan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan sejumlah target militer AS di Timur Tengah. Aksi ini merupakan respons terhadap operasi militer gabungan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Langkah-langkah militer ini, yang seringkali memicu spekulasi tentang eskalasi yang lebih luas, menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut dan seberapa cepat konflik dapat memanas.

Related Post
Operasi gabungan pada tanggal tersebut dilaporkan memiliki konsekuensi yang tragis. Pada hari pertama aksi militer itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas, dan sebuah sekolah perempuan di Iran selatan menjadi sasaran pemboman. Pemerintah Iran memperkirakan jumlah korban tewas akibat insiden tersebut mencapai lebih dari 1.200 orang, sebuah angka yang menggarisbawahi dampak kemanusiaan yang parah dari setiap konfrontasi militer di wilayah ini.
Pernyataan dari Teheran ini, yang bersumber dari laporan Sputnik-OANA, jelas menjadi sorotan penting bagi para pengamat geopolitik. Pertanyaan besar yang kini menggantung adalah: apakah seruan Iran ini akan memicu pergeseran kebijakan di Washington, atau justru memperdalam jurang ketidakpercayaan yang telah lama ada? Masa depan perdamaian Timur Tengah tampaknya masih akan terus diuji oleh dinamika kekuatan regional dan global yang kompleks, dengan setiap langkah yang diambil berpotensi mengubah lanskap keamanan secara drastis.










Tinggalkan komentar