Lentera Pos- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menunjukkan ketegasannya dalam menjaga stabilitas harga pangan nasional. Sebuah inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Kebayoran, Jakarta, pada Jumat lalu, menjadi sorotan setelah laporan kenaikan harga ayam dan bawang putih memicu respons cepat dari pemerintah. Aksi Amran tak hanya berhasil menekan harga di lokasi, tetapi juga mengungkap praktik penjualan minyak goreng rakyat di atas harga eceran tertinggi (HET), memicu instruksi penindakan hukum yang serius terhadap para pelaku di balik layar.
Sidak ini bermula dari laporan mendesak mengenai lonjakan harga ayam dan bawang putih yang diterima Mentan saat rapat. "Kami tadi pagi sedang rapat, laporan datang ke kantor, mengatakan bahwa harga ayam naik, harga bawang putih naik," ungkap Amran di lokasi. Responsnya tak main-main; koordinasi instan dengan jajaran Polri, mulai dari Kapolda hingga Kapolres setempat, secara mengejutkan langsung membuahkan hasil. Harga ayam yang semula dilaporkan mencapai Rp40.000 per kilogram, seketika anjlok menjadi Rp25.000. Begitu pula bawang putih, dari Rp60.000 menjadi Rp38.000, jauh di bawah HET. "Jadi ternyata telepon itu menurunkan harga Rp15.000 per kilo," imbuhnya, menyoroti efektivitas intervensi cepat pemerintah.

Amran menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam terhadap pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. "Kepada seluruh saudaraku, sahabatku, pengusaha, tolong deh jangan main-main di bulan suci Ramadan," serunya. Ia menekankan bahwa koordinasi cepat dengan Polri akan terus dilakukan, dan setiap upaya manipulasi harga akan ditindak tegas. "Kami langsung koordinasi, kalau ada yang menaikkan harga pasti ditindak. Ini langsung turun dari Polri, ada dari Mabes, kemudian Pak Kapolres itu kita turunkan langsung, dan kami minta ditindak," tegasnya, menunjukkan sinyal kuat bahwa pengawasan akan diperketat secara menyeluruh.

Related Post
Namun, di tengah keberhasilan menekan harga ayam dan bawang, sidak ini juga menemukan "lubang" lain yang lebih kompleks. Minyak goreng rakyat, MinyaKita, yang seharusnya dijual Rp15.700 per liter, kedapatan dijual Rp19.000 per liter. Temuan ini memicu reaksi keras dari Mentan. Ia bahkan secara sengaja membeli dua kantong MinyaKita sebagai barang bukti. "Ini kami minta Pak Dirkrimsus, aku serahkan ini diproses hukum, segel unit usahanya. Tapi jangan bapak penjual pengecernya enggak boleh. Ini akan ditelusuri," ujarnya, mengisyaratkan bahwa praktik ini bukan sekadar ulah pedagang kecil, melainkan potensi keterlibatan distributor besar atau bahkan perusahaan yang bermain harga. Penelusuran ini menjadi kunci untuk membongkar mata rantai penimbunan atau penentuan harga yang tidak wajar, dan pemerintah bertekad untuk mengumumkan hasilnya jika sudah diproses.
Amran menekankan bahwa pemerintah tidak bermaksud menghambat pelaku usaha, namun kepatuhan terhadap regulasi, terutama HET untuk komoditas strategis seperti beras, ayam, daging, telur, dan minyak goreng, adalah mutlak. "Ayo cari rezeki tetapi jangan mengganggu pemerintah, jangan mengganggu rakyat, jangan mengganggu saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadan," pesannya. Sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga, ia memastikan stok pangan nasional aman dan melimpah. "Pasokan telah kami pasok dari sebelum bulan suci Ramadan itu lebih dari cukup. Beras kita melimpah, minyak goreng kita mensupply dunia," katanya, menepis kekhawatiran akan kelangkaan.
Untuk mengantisipasi gejolak lebih lanjut, operasi pasar dan pengawasan ketat akan terus digencarkan di seluruh Indonesia. "Operasi terus. Kami bukan hanya Menteri Pertanian, tetapi juga sebagai Kepala Bapanas. Tim di seluruh Indonesia kami tempatkan sekarang. Ada laporan naik, langsung ditindak, tidak lagi dirayu-rayu, ditindak," tegas Amran. Ia menutup dengan peringatan keras bahwa tidak ada alasan bagi harga minyak goreng untuk naik di dalam negeri, mengingat pasokan yang sangat mencukupi. Pesan ini menjadi penegas komitmen pemerintah untuk melindungi daya beli masyarakat dari oknum-oknum yang mencoba memanfaatkan momentum Ramadan demi keuntungan pribadi.








Tinggalkan komentar