Lentera Pos- Mantan Presiden RI, Megawati Soekarnoputri, membuka diri soal perjalanan pendidikannya yang tak tuntas di dua universitas ternama. Hal ini ia sampaikan dalam Workshop ‘Pengelolaan Biodiversitas dan Penguatan HKI untuk Masa Depan Berkelanjutan: Sinergi UGM-BRIN’ di UGM, Sleman, Yogyakarta. Megawati hadir sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Megawati berkelakar tentang alasannya tak berkuliah di UGM, meski lahir di Yogyakarta dan ayahnya, Soekarno, meresmikan gedung pusat kampus tersebut. Ia memilih Unpad dan UI, namun tak lulus karena kesibukan politik. Ia bangga dengan gelar profesor kehormatan yang disandangnya, dan merasa dihargai oleh para peneliti BRIN.

Dalam kesempatan itu, Megawati juga menyampaikan orasi mengenai riset, inovasi, wawasan kebangsaan, emansipasi perempuan, dan pengalamannya di forum internasional. Ia menekankan pentingnya Indonesia membela Palestina di forum global.

Related Post
Tak hanya itu, Megawati juga mengkritisi narasi sejarah tentang penjajahan Belanda selama 350 tahun. Ia mempertanyakan keabsahan data tersebut, karena Belanda awalnya datang sebagai pedagang, bukan penjajah. Ia mendorong generasi muda untuk berpikir kritis terhadap sejarah dan mencintai Indonesia secara utuh.
Megawati juga meragukan jumlah pulau di Indonesia yang disebut 17 ribu. Ia meminta penghitungan ulang, karena perubahan iklim dan pemanasan global bisa menenggelamkan pulau-pulau kecil. Ia menekankan pentingnya Deklarasi Djuanda dalam melindungi kedaulatan wilayah NKRI, meski pulau tertutup air. Menurutnya, secara politis, hilangnya pulau bisa menggeser batas wilayah negara.










Tinggalkan komentar