Mataram Ungkap Rahasia: Ogoh-ogoh, Harmoni, & Dua Momen Suci

Mataram Ungkap Rahasia: Ogoh-ogoh, Harmoni, & Dua Momen Suci

Lentera Pos- Di tengah hiruk pikuk modernitas, Kota Mataram kembali menyuguhkan sebuah tontonan yang tak hanya memukau mata, namun juga menggetarkan hati. Pawai ogoh-ogoh tahun ini bukan sekadar arak-arakan patung raksasa; ia adalah sebuah narasi tentang kematangan sosial, toleransi yang teruji, dan bagaimana sebuah kota menyeimbangkan tradisi kuno dengan denyut nadi kehidupan kontemporer. Lebih istimewa lagi, perayaan ini berlangsung saat umat Muslim menjalankan ibadah Ramadhan, menciptakan simfoni harmoni yang langka yang patut menjadi sorotan dunia.

Sore di pertengahan Maret, Jalan Pejanggik berubah menjadi panggung raksasa. Ratusan pemuda, dengan semangat membara, mengusung 105 ogoh-ogoh yang memadukan imajinasi liar, spiritualitas mendalam, dan kerja kolektif lintas generasi. Tabuhan gamelan berpadu dengan sorak-sorai warga, menciptakan atmosfer yang tak terlupakan. Ini bukan hanya tradisi menjelang Hari Raya Nyepi; ini adalah deklarasi budaya Mataram kepada dunia, sebuah perayaan yang telah menjelma menjadi panggung sosial yang memperlihatkan wajah sejati toleransi di Nusa Tenggara Barat.

Mataram Ungkap Rahasia: Ogoh-ogoh, Harmoni, & Dua Momen Suci
Gambar Istimewa : img.antaranews.com

Secara filosofis, ogoh-ogoh adalah representasi Bhuta Kala, energi negatif yang dinetralisir sebelum memasuki keheningan Nyepi. Sebuah ritual ‘ramai’ sebelum ‘sunyi’, perjalanan batin dari hiruk-pikuk menuju refleksi. Namun, seiring waktu, kreativitas banjar dan sorotan media sosial telah mengubahnya menjadi atraksi publik yang dinanti. Dari figur mitologi hingga kritik sosial, ogoh-ogoh kini menjadi kanvas ekspresi yang kompleks. Dengan 105 banjar berpartisipasi dan 850 personel gabungan mengamankan, skala acara ini memang monumental. Pertanyaannya, di tengah gemerlap ini, apakah makna spiritualnya masih lestari atau tergerus oleh orientasi hiburan dan eksistensi semata?

COLLABMEDIANET

Inilah titik krusial yang membuat Mataram menjadi studi kasus menarik. Pawai ogoh-ogoh tahun ini beririsan langsung dengan Ramadhan, sebuah momen sakral yang menuntut ritme berbeda. Namun, alih-alih gesekan, yang terjadi adalah orkestrasi sosial yang apik. Pawai dijadwalkan rampung sebelum waktu berbuka puasa, menunjukkan sensitivitas luar biasa terhadap umat Muslim. Bahkan potensi benturan dengan malam takbiran telah diantisipasi dengan rekayasa rute dan komunikasi lintas komunitas yang intens. Ini bukan sekadar kebetulan; ini adalah buah dari kolaborasi erat antara pemerintah kota, aparat keamanan, dan tokoh masyarakat. Mataram, yang sering disebut miniatur Indonesia, membuktikan bahwa harmoni bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang dijalankan melalui kebijakan, koordinasi, dan kesadaran kolektif.

Pengelolaan lalu lintas sepanjang 1,5 kilometer dan penutupan jalur strategis menunjukkan kompleksitas koordinasi. Tak hanya itu, aspek lingkungan pun tak luput dari perhatian. Dinas Lingkungan Hidup menyiagakan 325 petugas untuk mengantisipasi potensi 6 hingga 7 ton sampah dari pawai ogoh-ogoh. Ini adalah pengingat bahwa setiap perayaan budaya memiliki jejak ekologis yang tidak kecil. Di sisi lain, negara juga hadir dalam dimensi kemanusiaan, dengan pemberian remisi kepada 77 narapidana beragama Hindu. Nyepi menjadi momen refleksi, bahkan di balik jeruji besi lembaga pemasyarakatan.

Namun, tantangan ke depan tidak ringan. Popularitas yang terus menanjak berisiko menggeser fokus dari spiritual ke spektakuler. Generasi muda mungkin lebih tertarik pada kompetisi dan eksposur daripada pemahaman filosofis. Jika tidak dikelola dengan bijak, ogoh-ogoh bisa kehilangan kedalaman maknanya, menjadi sekadar festival tahunan tanpa ruh.

Oleh karena itu, intervensi kebijakan yang strategis dan edukasi berkelanjutan menjadi krusial. Setiap banjar perlu didorong tidak hanya berkreasi, tetapi juga mendalami filosofi di baliknya. Kurasi karya dapat diarahkan agar tidak sekadar mengejar estetika, tetapi juga pesan moral yang terkandung. Pemerintah daerah dapat mengintegrasikan ogoh-ogoh dalam pendidikan budaya, melalui lokakarya, diskusi, atau kurikulum lokal, menjaga keseimbangan antara kreativitas dan makna. Inovasi bahan ramah lingkungan dan sistem pengelolaan limbah juga harus menjadi standar penyelenggaraan. Model koordinasi lintas agama yang telah terbukti efektif di Mataram patut dijadikan protokol tetap, memastikan komunikasi berkelanjutan melampaui momen-momen insidental.

Ketika malam tiba dan ogoh-ogoh dibakar, yang tersisa bukan hanya abu. Ia adalah pertanyaan reflektif: Mampukah kita menjaga esensi di balik tradisi yang terus berevolusi? Atau akankah kita membiarkannya larut dalam gemerlap tanpa arah? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan, apakah ogoh-ogoh tetap menjadi jembatan menuju keheningan batin, atau sekadar panggung keramaian yang kehilangan jiwanya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar