Lentera Pos- Proyeksi Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan ekonomi domestik yang kokoh, diperkirakan melampaui 5 persen pada Triwulan I-2026, bahkan mencapai angka impresif 5,2 persen. Optimisme ini disampaikan langsung oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, dalam gelaran Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin. Sebuah sinyal kuat bahwa Indonesia memiliki fondasi yang tangguh di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Destry Damayanti menekankan bahwa kekuatan ekonomi domestik menjadi penopang utama yang patut disyukuri, memberikan bantalan di tengah ketidakpastian global. Indikator pendapatan masyarakat turut menguat, dengan tren peningkatan yang terlihat pada kelompok berpenghasilan di atas maupun di bawah Rp5 juta selama kuartal pertama tahun ini. Ini mengindikasikan bahwa konsumsi rumah tangga, sebagai motor penggerak utama, tetap solid.

Tak hanya itu, pemerintah secara proaktif mengarahkan kebijakan untuk memperkuat daya beli dan daya tahan ekonomi masyarakat kelas bawah, yang kerap menjadi garda terdepan dalam menghadapi gejolak ekonomi. Langkah-langkah ini krusial untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan merata. Optimisme juga terpancar dari sektor manufaktur, tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang konsisten menunjukkan ekspektasi perbaikan, menandakan sektor produksi berada pada jalur positif meskipun ada fluktuasi pasar sesekali.

Related Post
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ini agar tidak kendor, sinergi kebijakan yang komprehensif menjadi kunci. Destry menegaskan bahwa koordinasi tidak hanya terbatas pada ranah fiskal dan moneter, melainkan juga harus merangkul kebijakan sektor riil yang kini tengah digalakkan. Ini adalah strategi menyeluruh yang diperlukan untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang resilien.
Dalam kesempatan tersebut, Destry juga menyinggung tiga pilar utama yang kerap ditekankan oleh Presiden RI Prabowo Subianto sebagai penopang ketahanan dan daya tahan sebuah negara. Pilar pertama adalah ketahanan pangan, yang diwujudkan melalui program strategis seperti pembukaan lahan pertanian baru, pengembangan kampung nelayan, hingga inisiatif Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Pilar kedua adalah ketahanan energi. Upaya membangun kilang-kilang baru dan mengoptimalkan sumber daya domestik, termasuk pemanfaatan batu bara yang melimpah sebagai sumber energi strategis, menjadi prioritas. Ini adalah langkah antisipatif untuk mengurangi ketergantungan energi dari luar dan menjamin pasokan yang stabil.
Terakhir, namun tak kalah penting, adalah ketahanan pertahanan dan keamanan. Di tengah lanskap geopolitik global yang penuh gejolak, pilar ini menjadi fundamental. "Ketahanan keamanan itu menjadi utama, apalagi Indonesia sebuah negara yang besar dengan penduduk yang 280 juta, jadi tentunya pertahanan keamanan juga menjadi prioritas utama saat ini," pungkas Destry. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa stabilitas ekonomi tidak dapat dipisahkan dari stabilitas keamanan nasional, terutama bagi negara dengan populasi dan wilayah sebesar Indonesia.
Dengan kombinasi kekuatan domestik yang resilient, kebijakan pemerintah yang terarah, dan fondasi strategis yang kuat, Indonesia tampaknya siap menghadapi tantangan ekonomi ke depan dengan optimisme yang beralasan.










Tinggalkan komentar