Lentera Pos- Beijing – Sebuah gelombang kejut melanda dunia sepak bola Tiongkok pekan lalu. Asosiasi Sepak Bola China (CFA) secara mengejutkan menjatuhkan sanksi larangan seumur hidup kepada 73 individu dan menghukum 13 klub profesional. Keputusan drastis ini merupakan puncak dari upaya masif pemberantasan korupsi yang telah lama mencengkeram olahraga paling populer di dunia tersebut, sebuah langkah yang menggarisbawahi tekad Beijing untuk membersihkan setiap sudut institusi negara.
Larangan seumur hidup ini tidak pandang bulu, menargetkan figur-figur kunci yang pernah berada di puncak piramida sepak bola Tiongkok. Di antara mereka adalah mantan Ketua CFA, Chen Xuyuan, serta mantan Wakil Ketua Li Yuyi dan Du Chaochai, dan mantan Sekretaris Jenderal Liu Yi. Namun, sorotan tajam tertuju pada Li Tie, mantan pelatih tim nasional China periode 2020-2021, yang tidak hanya dilarang seumur hidup dari aktivitas sepak bola, tetapi juga telah dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada akhir 2024 atas tuduhan penerimaan suap senilai 16 juta dolar AS (sekitar Rp268 miliar).

Pelanggaran yang dilakukan para individu ini sangat beragam dan merusak integritas olahraga: mulai dari praktik suap-menyuap, pengaturan skor pertandingan, hingga keterlibatan dalam judi ilegal. Bahkan, ada sanksi khusus bagi pemain yang terbukti tidak bermain secara sungguh-sungguh atau menunjukkan perilaku negatif di lapangan, seperti yang menimpa mantan pemain klub Tianjin TEDA Football Bai Yuefeng, mantan pemain Shenzhen Football Club Li Fei, dan mantan pemain Zhejian Yiteng Football Club Hao Qiang. Ini menunjukkan betapa seriusnya CFA dalam menegakkan etika dan semangat fair play, bahkan hingga ke tingkat performa di lapangan.

Related Post
Tidak hanya individu, 13 klub liga profesional Tiongkok juga tak luput dari sapuan bersih ini. Klub-klub besar seperti Tianjin Jinmen Tigers, Shanghai Shenhua, Qingdao Manatee, Wuhan Three Towns, Shandong Taishan, Henan Football Club, Zhejiang Professional, Shanghai Harbor, Beijing Guoan, Meizhou Hakka, Changchun Yatai, Suzhou Soochow dan Ningbo Professional menerima sanksi pengurangan poin antara 3 hingga 10 poin, serta denda finansial yang bervariasi dari 200 ribu hingga satu juta RMB (sekitar Rp483 juta hingga Rp2,41 miliar). Sanksi ini berlaku untuk musim 2026, memberikan dampak langsung pada persaingan liga dan memaksa klub untuk introspeksi mendalam.
Keputusan drastis ini bukan sekadar sanksi biasa; ini adalah deklarasi perang terhadap penyakit kronis yang telah menggerogoti sepak bola Tiongkok dari dalam. Langkah berani ini, meski menyakitkan, diharapkan menjadi fondasi untuk membangun kembali sepak bola Tiongkok yang lebih bersih dan berintegritas, sebuah prasyarat mutlak jika negara ini ingin bersaing di panggung global dan mewujudkan ambisi sepak bolanya. Pesan yang disampaikan sangat jelas: tidak ada tempat bagi korupsi dan pelanggaran etika dalam olahraga, terlepas dari posisi atau reputasi seseorang.
Melalui unggahan resmi di akun Weibo, CFA menegaskan komitmennya untuk menjalankan kebijakan Partai dan pemerintah pusat dalam menerapkan nol toleransi terhadap pelanggaran. Mereka juga secara tegas meminta semua pemain dan klub lain untuk "menarik pelajaran mendalam dari kasus ini dan menjadikannya peringatan keras."
Skandal di dunia sepak bola ini hanyalah salah satu cerminan dari skala kampanye anti-korupsi yang sedang berlangsung. Ini bukan insiden terisolasi, melainkan bagian integral dari kampanye anti-korupsi besar-besaran yang digalakkan Presiden Xi Jinping sejak 2012, yang telah menjangkau berbagai sektor di Tiongkok. Data dari Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin dan Komisi Pengawasan Nasional China menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025 saja, 69 pejabat setingkat provinsi atau lebih tinggi, serta 983 ribu individu lainnya, telah dijatuhi hukuman atas kasus korupsi di berbagai bidang. Angka ini menggarisbawahi tekad Beijing untuk membersihkan birokrasi dan institusi dari praktik-praktik ilegal, termasuk di arena olahraga yang sangat dicintai publik, demi mewujudkan tata kelola yang lebih bersih dan transparan.










Tinggalkan komentar