Selat Hormuz Genting: China Beri Sinyal Mengejutkan!

Lentera Pos- Beijing menanggapi seruan mendesak dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait peran Tiongkok dalam memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz yang kini memanas. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan komitmen negaranya untuk terus menjalin komunikasi dengan semua pihak demi meredakan ketegangan di jalur maritim vital tersebut, sebuah pernyataan yang mengisyaratkan pendekatan hati-hati di tengah krisis global.

IMG 4866
Gambar Istimewa : img.antaranews.com

Dalam konferensi pers di Beijing, Senin, Lin Jian secara lugas menyatakan, "Kami terus menjaga komunikasi dengan semua pihak mengenai situasi saat ini dan tetap berkomitmen untuk meredakan ketegangan yang ada." Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap permintaan Trump dalam wawancara dengan sebuah media di AS, yang mendesak China untuk turut serta membantu memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Trump berargumen bahwa China memiliki kepentingan besar dalam keamanan selat tersebut, mengingat "90 persen minyaknya melewati selat ini." Desakan ini bukan yang pertama; sebelumnya, pada Minggu (15/3), Trump telah meminta sekitar tujuh negara, termasuk Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, serta negara-negara anggota NATO, untuk membentuk koalisi pengawal kapal. Ia menekankan bahwa negara-negara tersebut sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.

COLLABMEDIANET

Ketegangan di Selat Hormuz mencapai puncaknya setelah serangan masif AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sekitar 1.300 orang lainnya. Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Sebagai respons paling signifikan, Iran menutup Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran serius terhadap pasokan energi dan harga pangan global.

Lin Jian menambahkan bahwa gejolak di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya telah mengganggu jalur perdagangan barang dan energi internasional, serta merusak perdamaian dan stabilitas regional maupun global. "Sekali lagi, China menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer, menghindari peningkatan ketegangan lebih lanjut, dan mencegah gejolak regional memberikan dampak yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi global," tegasnya, menyoroti dampak ekonomi yang tak terhindarkan.

Selat Hormuz bukan sekadar jalur air biasa; ia adalah arteri utama yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dan gas dunia. Ini adalah pintu keluar vital bagi produsen energi besar di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, Iran, dan Uni Emirat Arab. Dengan 17 hingga 20 juta barel minyak melintas setiap hari, dan sekitar 84 persen di antaranya menuju negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan, penutupannya adalah ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global.

Namun, di balik pernyataan publik yang keras dan desakan untuk intervensi, sebuah agenda diplomatik penting tengah diupayakan. Lin Jian mengonfirmasi bahwa rencana kunjungan Presiden Trump ke Beijing pada 31 Maret – 2 April 2026 masih terus dibahas. "Diplomasi tingkat kepala negara memainkan peran yang tidak tergantikan dalam memberikan arahan strategis bagi hubungan China-Amerika Serikat," ujar Lin Jian, mengisyaratkan bahwa dialog langsung mungkin menjadi kunci untuk meredakan krisis yang lebih besar, jauh di luar sorotan media. Ini bisa menjadi momen krusial di mana isu Hormuz dan hubungan bilateral yang kompleks akan dibahas secara mendalam, berpotensi mengubah dinamika geopolitik global.

Situasi di Selat Hormuz tetap menjadi titik didih geopolitik, dengan China menavigasi antara desakan AS dan komitmennya terhadap stabilitas regional dan global, sambil membuka pintu untuk dialog tingkat tinggi yang bisa jadi penentu arah masa depan. Dunia kini menanti, apakah pertemuan puncak yang akan datang mampu meredakan badai yang mengancam ekonomi global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar