Lentera Pos- Ketika jutaan jiwa bergegas kembali ke pangkuan kampung halaman, mengubah hiruk pikuk Jakarta menjadi keheningan yang tak biasa, ada sekelompok individu yang memilih untuk tetap tinggal. Mereka adalah ‘pemain utama’ yang menjaga denyut nadi ibu kota, para pahlawan tak terlihat yang pengorbanannya seringkali luput dari perhatian, namun esensinya begitu mendalam bagi kebahagiaan keluarga di seberang sana.
Bukan sekadar menunaikan kewajiban pekerjaan, keputusan mereka untuk bertahan di tengah sunyinya kota metropolitan ini adalah manifestasi dari komitmen yang tak tergoyahkan. Mereka memastikan roda perekonomian dan layanan publik terus berputar, sekaligus menjadi jangkar finansial agar asap dapur keluarga di kampung halaman tetap mengepul hangat menyambut hari kemenangan. Di balik setiap perjalanan yang tak diambil, tersembunyi sebuah perhitungan cermat dan cinta yang tak terhingga.

Salah satu dari mereka adalah Dasman, seorang pria paruh baya asal Padang, Sumatera Barat. Di saat banyak perantau Minang lainnya merencanakan perjalanan pulang basamo yang penuh sukacita, Dasman justru setia di balik kemudi bus Transjakarta.

Related Post
Dengan seragam rapi, ia membelah jalanan ibu kota yang kini lengang, melayani rute 1H yang menghubungkan Tanah Abang dengan Stasiun Gondangdia. Pengalaman panjangnya selama bertahun-tahun sebagai sopir truk pengantar barang lintas daerah, menantang kerasnya aspal Nusantara, kini ia baktikan untuk melayani mobilitas warga Jakarta. Sebuah dedikasi yang tak lekang oleh waktu, hanya berganti moda transportasi.
Tahun ini menandai Lebaran kedua berturut-turut bagi Dasman tanpa ritual pulang kampung. Sebuah keputusan yang diambil bukan tanpa pertimbangan, melainkan dengan kalkulasi yang sangat matang dan membumi. Bertahan di Jakarta dan mengambil giliran kerja saat libur raya memberikannya kesempatan berharga untuk mendapatkan uang lembur, sebuah ‘bonus’ yang bukan sekadar angka, melainkan investasi nyata untuk senyum dan kesejahteraan keluarganya.
Kisah Dasman hanyalah sekelumit dari ribuan cerita pengorbanan senyap yang terukir di sudut-sudut Jakarta selama musim Lebaran. Mereka adalah bukti nyata bahwa kebahagiaan keluarga tak selalu harus diukur dari jarak yang ditempuh, melainkan dari ketulusan perjuangan dan pengorbanan yang diberikan. Di balik sunyinya jalanan dan gedung-gedung yang tertidur, ada semangat juang yang tak pernah padam, demi memastikan hari raya tetap menjadi momen penuh berkah bagi orang-orang terkasih.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026



Tinggalkan komentar