Lentera Pos- Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk mengedepankan sikap toleransi dan memahami esensi persatuan di tengah perbedaan awal Ramadhan. Menurutnya, perbedaan bukanlah bencana atau malapetaka, melainkan anugerah yang seharusnya memperkaya, bukan memecah belah. Pernyataan ini disampaikan Anwar Abbas saat dikonfirmasi dari Jakarta, Rabu, menanggapi potensi perbedaan penetapan awal puasa antara pemerintah dan organisasi keagamaan.
Buya Anwar menjelaskan secara gamblang bahwa perbedaan pandangan dalam Islam bukanlah fenomena baru. Sejarah panjang peradaban Islam telah mencatat tradisi yang kaya dalam menyikapi keragaman pendapat, sebuah warisan yang dicontohkan dengan apik oleh empat imam mazhab besar yang menjadi rujukan kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia. Dinamika ijtihad, atau upaya sungguh-sungguh dalam menetapkan hukum Islam, telah berlangsung sejak masa para ulama terdahulu, menunjukkan bahwa keragaman adalah bagian inheren dari kekayaan intelektual Islam.

Empat pilar keilmuan Islam yang dikenal luas—Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Muhammad ibn Idris al-Syafi’i, dan Ahmad ibn Hanbal—masing-masing memiliki corak pemikiran dan metode istinbat hukum yang berbeda. Perbedaan inilah yang melahirkan mazhab-mazhab fikih yang tersebar luas: mazhab Hanafi dominan di Asia Selatan dan Turki, Syafi’i berkembang di Asia Tenggara dan Yaman, Maliki di Afrika Utara, sementara Hambali banyak diikuti di Arab Saudi.

Related Post
Menariknya, para imam agung ini hidup dalam rentang waktu yang saling berdekatan dan bahkan saling berguru. Imam Abu Hanifah (wafat 150 H) sezaman dengan Imam Malik (wafat 179 H). Kemudian, Imam Malik menjadi guru bagi Imam Syafi’i (wafat 204 H), yang selanjutnya membimbing Imam Hambal (wafat 241 H). Meskipun pandangan fikih mereka seringkali bersimpangan dalam banyak persoalan, satu hal yang tak pernah goyah adalah penghormatan mendalam dan keengganan untuk memaksakan kehendak. Mereka adalah ulama yang alim, sangat berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan, dan kemajuan agama Islam.
Buya Anwar memberikan teladan nyata dari sikap toleransi para imam. Ia mengisahkan bagaimana Imam Syafi’i, yang berpendapat membaca qunut saat shalat Subuh, tidak melakukannya ketika berziarah ke makam Imam Abu Hanifah di Baghdad. Gestur ini adalah bentuk penghormatan luar biasa kepada gurunya yang tidak membaca qunut. Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Imam Hambali, yang meski kerap berbeda pandangan dengan Imam Syafi’i, tetap mendoakan gurunya tersebut dalam shalatnya selama puluhan tahun.
Keteladanan inilah yang, menurut Buya Anwar, sangat relevan untuk direfleksikan dalam menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah, di mana sebagian umat memulai puasa pada Rabu dan sebagian lainnya pada Kamis. Perbedaan ini, tegasnya, muncul dari penggunaan dua metode yang sama-sama memiliki dasar syar’i yang kuat, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal). Tidak ada satu pun metode yang secara mutlak lebih unggul dari yang lain dalam konteks keabsahan syar’i.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh umat Islam untuk mengedepankan sikap tasamuh atau toleransi serta menjaga ukhuwah Islamiyah demi memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan semangat tasamuh yang tulus, umat Islam diharapkan tidak hanya mampu menjaga ketertiban sosial, tetapi juga membangun persatuan yang kokoh, mengubah setiap perbedaan menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan. Ini adalah kunci untuk memastikan keberkahan Ramadhan dapat dirasakan secara menyeluruh, tanpa terpecah belah oleh perbedaan pandangan yang sejatinya adalah rahmat.








Tinggalkan komentar