Lentera Pos- Di tengah puing dan lumpur sisa amukan alam, sebuah percakapan lirih menguak ironi pilu yang kerap menyertai tugas kemanusiaan. "Ger, bagaimana kabar orang tua kita? Makan apa mereka di sana?" tanya Rayyan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru genset dan denting logam yang bersahutan. Pertanyaan itu bukan sekadar obrolan ringan, melainkan cerminan kerinduan mendalam dan kekhawatiran yang tertahan, jauh dari kampung halaman mereka yang juga luluh lantak.
Gerry, rekan seperjuangannya, hanya bisa menoleh sekilas, mengusap peluh di dahinya sebelum menjawab dengan nada getir yang dibalut canda, "Ya seperti orang-orang itu lah… makan nasi pakai Indomie." Dialog singkat ini bukan terjadi di ruang berpendingin, melainkan di atas tanah basah, di antara tiang listrik yang miring dan kabel-kabel yang terkulai lemas, mencerminkan kelelahan para pekerja di Kecamatan Pining, Gayo Lues, Aceh.

Kecamatan Pining masih bergelut dengan sisa-sisa bencana. Lumpur mengering membentuk retakan, bongkahan batu besar berserakan di tepi jalan, dan sejumlah rumah tampak kosong atau rata dengan tanah. Di tengah pemandangan suram ini, Rayyan berdiri tegak, mengenakan helm proyek putih, rompi berdebu, dan sepatu bot yang masih lengket dengan jejak tanah liat sejak pagi.

Related Post
Sebagai petugas Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Blangkejeren, Gayo Lues, Rayyan sudah terbiasa menghadapi medan berat. Namun, musibah kali ini terasa berbeda. Bukan hanya infrastruktur yang ambruk, melainkan juga rasa aman yang terkoyak, tak terkecuali bagi dirinya sendiri. Ini bukan sekadar tugas, melainkan pertaruhan mental dan fisik di garis terdepan yang menuntut pengorbanan tak terhingga.
Rayyan dan Gerry bukanlah warga asli Gayo Lues. Mereka berasal dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang, sebuah wilayah yang ironisnya menjadi salah satu daerah terparah dilanda bencana. Sebuah dilema yang menusuk: saat Rayyan berjuang keras menyalakan kembali lampu di rumah orang lain, kampung halamannya sendiri sempat terendam gelap dan lumpur, terputus dari dunia luar. Bagaimana seseorang bisa menemukan kekuatan untuk menolong orang lain, ketika dunianya sendiri sedang runtuh?
Bencana itu datang setelah hujan tanpa henti selama tiga hari tiga malam. Warga setempat masih terbayang derasnya air yang tak kunjung reda, gemuruh dari perbukitan, dan bau tanah basah yang menyengat. Sungai meluap, tebing longsor, jalan terputus, listrik padam total, dan sinyal telekomunikasi lenyap seketika, mengisolasi seluruh wilayah dari dunia luar.
Saat kabar bencana pertama kali sampai ke telinga Rayyan, ia berada di Blangkejeren. Tanpa pikir panjang, tangannya langsung meraih telepon genggam. Namun, layar hanya menampilkan "No Service". Listrik padam, jaringan mati, dan jarak yang seharusnya hanya ratusan kilometer terasa seperti jurang tak terjangkau. Empat hari berikutnya menjadi masa yang paling berat, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental, dihantui pertanyaan tentang nasib keluarga di rumah yang tak bisa dihubungi.
Kisah Rayyan dan Gerry adalah potret nyata dari solidaritas yang melampaui batas geografis dan ikatan keluarga. Di tengah kerinduan yang mendalam dan kekhawatiran yang tak terucapkan, mereka memilih untuk tetap berada di garis depan, memastikan cahaya kembali menyala di tengah kegelapan. Pengorbanan mereka mengingatkan kita bahwa kebaikan, dalam logika kemanusiaan yang lahir dari bencana, harus terus berputar, memastikan keluarga lain bisa bertahan, bahkan saat keluarga sendiri sedang berjuang. Sebuah pengingat akan kekuatan tak terlihat yang menggerakkan para pahlawan di balik layar, menginspirasi harapan di tengah keputusasaan.









Tinggalkan komentar