Lentera Pos- Di tengah pusaran polemik yang mengguncang tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, tampil sebagai penengah. Lembaga pendidikan Islam yang disegani ini menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah pertemuan penting para ulama NU. Tujuannya? Merajut kembali persatuan dan mencari solusi terbaik bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
Inisiatif ini bukan tanpa restu. Juru Bicara Pesantren Lirboyo, KH Oing Abdul Muid (Gus Muid), mengungkapkan bahwa rencana pertemuan ini telah disetujui oleh dua pengasuh utama pesantren, KH Anwar Manshur dan KH Kafabihi Mahrus. Lirboyo membuka pintunya lebar-lebar dengan harapan pertemuan ini dapat mempertemukan kedua belah pihak yang berselisih.

Gus Muid menambahkan, Lirboyo juga akan mengundang para kiai sepuh yang memiliki kearifan dan pengalaman mumpuni. Kehadiran mereka diharapkan dapat menuntun dialog agar tetap tenang, konstruktif, dan berorientasi pada kemaslahatan NU. "Sedoyo prihatin dengan kondisi NU sak meniko [semua prihatin dengan kondisi NU yang sedemikian]," ungkap Gus Muid, menggambarkan keprihatinan mendalam atas situasi yang terjadi.

Related Post
Langkah Lirboyo ini muncul setelah beredarnya risalah rapat harian Syuriah PBNU yang mendesak Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, untuk mengundurkan diri. Desakan ini dipicu oleh undangan terhadap narasumber dari jaringan zionisme internasional dalam sebuah acara PBNU, yang dianggap melanggar nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah.
Namun, di sisi lain, Silaturahim Alim Ulama yang digelar PBNU menghasilkan kesepakatan bahwa kepengurusan PBNU harus berjalan hingga akhir periode, tanpa ada pemakzulan Ketua Umum. Katib Aam PBNU, Ahmad Said Asrori, menegaskan bahwa para kiai sepakat untuk menyelesaikan masalah ini secara internal dan menjaga soliditas organisasi.
Dengan kesediaan Lirboyo menjadi tuan rumah, diharapkan pertemuan ini dapat menjadi titik terang dalam menyelesaikan konflik internal PBNU. Momentum ini diharapkan dapat memperkuat kembali tali persaudaraan, mengembalikan keteduhan, dan meneguhkan komitmen bersama dalam menjaga maruah Nahdlatul Ulama.









Tinggalkan komentar