Lentera Pos- BEM KM Universitas Gadjah Mada (UGM) meluncurkan kritik pedas terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) Presiden Prabowo Subianto. Aksi teatrikal yang melibatkan sapi bertopeng Prabowo—diiringi pria bertopeng Teddy Indra Wijaya—menjadi simbol protes atas program unggulan tersebut. Pawai satir ini berlangsung dari boulevard UGM menuju plaza bundaran kampus, diiringi pemasangan spanduk yang antara lain menyindir MBG sebagai "Modal Bacot Gede".
Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardianto, menjelaskan bahwa aksi tersebut bukan penghinaan, melainkan kritik satire. Sapi, sebagai simbol pemberi nutrisi, dianggap ironis mengingat program MBG justru menimbulkan masalah. "Tugas Presiden bukan hanya memberi nutrisi, tetapi juga melaksanakan amanah konstitusi," tegas Tiyo.

Lebih dari 6.542 siswa di berbagai daerah dilaporkan mengalami keracunan akibat makanan dari program MBG. Kejadian ini, menurut BEM UGM, menunjukkan pengawasan pemerintah yang lemah. Oleh karena itu, mereka mendesak evaluasi total program MBG, bahkan mengancam pembatalan jika evaluasi total tak dilakukan.

Related Post
Kekhawatiran BEM UGM tak berhenti di masalah keracunan. Mereka juga menyoroti pemotongan anggaran pendidikan yang signifikan untuk membiayai MBG. Data APBN 2026 menunjukkan alokasi 44% dari total anggaran pendidikan (sekitar Rp335 triliun) dialokasikan untuk MBG. "Anak-anak diberi makan, tetapi masa depan pendidikan mereka dikorbankan," kecam Tiyo. Hal ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap konstitusi.
BEM UGM juga mempertanyakan pernyataan Prabowo di Sidang Majelis Umum PBB ke-80 terkait pengakuan Israel. Pernyataan tersebut dinilai sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat Palestina dan sikap konsisten Indonesia menentang penjajahan. Tiyo menekankan bahwa Presiden seharusnya mencerminkan aspirasi rakyat Indonesia yang menginginkan kemerdekaan penuh bagi Palestina.
Kesimpulannya, BEM UGM menyerukan penghentian penggunaan anggaran pendidikan untuk MBG dan mendesak evaluasi menyeluruh atas program tersebut. Mereka menilai program ini tidak hanya bermasalah dari sisi keamanan pangan, tetapi juga berpotensi mengorbankan masa depan pendidikan anak bangsa. Pernyataan Prabowo di PBB pun turut menjadi sorotan tajam dari mahasiswa UGM. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah MBG layak dilanjutkan dengan kondisi APBN yang defisit?










Tinggalkan komentar