Lentera Pos- Jember, Jawa Timur – Di tengah derap langkah modernisasi yang tak terbendung, sebuah warisan budaya tak benda di pesisir selatan Kabupaten Jember justru kian bersinar. Bukan sekadar alat transportasi usang, namun gerobak kayu yang ditarik dua ekor sapi, atau yang akrab disebut Pegon, telah menjelma menjadi denyut nadi kehidupan dan kebanggaan masyarakat setempat, menawarkan kisah ketahanan tradisi yang memukau.
Sejak abad ke-19, Pegon telah menjadi saksi bisu pergerakan roda perekonomian masyarakat pesisir selatan Jember. Kala itu, kendaraan sederhana ini bukan sekadar alat angkut hasil bumi, melainkan urat nadi yang menghubungkan desa-desa, pasar, dan pelabuhan, membentuk lanskap sosial dan ekonomi yang khas. Fungsinya yang vital menjadikannya elemen tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari warga, sebuah gambaran masa lalu yang kaya akan kearifan lokal.

Meskipun jumlahnya tak lagi sebanyak dulu, Pegon tak lantas tergerus zaman. Ia bertransformasi, dari sekadar alat fungsional menjadi ikon budaya yang dielu-elukan, khususnya di Kecamatan Ambulu. Puncaknya adalah Festival Pegon, sebuah arak-arakan meriah yang menjadi perwujudan nyata komitmen masyarakat dalam menjaga warisan leluhur. Upaya pelestarian ini bukan hanya untuk mempertahankan sebuah benda, melainkan untuk memastikan keaslian dan sejarah Pegon di Jember mendapatkan pengakuan resmi secara nasional, sebuah langkah krusial agar tradisi lintas generasi ini terus lestari.

Related Post
Setiap tujuh hari pasca-Idul Fitri, bertepatan dengan perayaan Lebaran Ketupat, suasana di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, berubah semarak. Ratusan Pegon yang dihias dengan ornamen warna-warni, seolah hidup kembali, beriringan dalam sebuah prosesi agung. Dari Balai Desa Sumberejo, iring-iringan ini melaju perlahan menuju destinasi ikonik, Pantai Watu Ulo. Di sana, kebersamaan terjalin erat melalui santap bersama ketupat, sayur, dan aneka olahan hasil bumi, diiringi doa syukur yang menggema, memohon berkah dan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dan kebersamaan yang terjalin.
Fahrul Asrori, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Ambulu, menegaskan bahwa tradisi tahunan ini bukan sekadar perayaan musiman. "Arak-arakan Pegon adalah manifestasi kebanggaan sekaligus kekayaan budaya masyarakat Ambulu dan sekitarnya yang harus terus kita jaga keberadaannya," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya pengakuan nasional terhadap keaslian dan sejarah Pegon di Jember, sebuah langkah strategis untuk memastikan kelestarian tradisi lintas generasi ini.
Uniknya, di balik kemegahan festival, Pegon tetap menjalankan fungsi praktisnya dalam keseharian. Para petani masih setia menggunakannya untuk mengangkut pupuk, hasil panen, hingga material bangunan. Namun, saat Festival Pegon tiba, gerobak-gerobak fungsional ini bertransformasi menjadi kendaraan hias yang membawa keluarga bersilaturahmi dan berwisata ke Pantai Watu Ulo. Momen ini bukan hanya rekreasi, melainkan ajang krusial untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga, sebuah jembatan sosial yang kokoh di tengah arus perubahan.
Sejarah Festival Pegon sendiri berakar kuat pada tahun 1989, ketika tradisi arak-arakan ini pertama kali diinisiasi, tepat pada hari ketujuh setelah Hari Raya Idul Fitri. Sejak saat itu, ia terus berkembang, menjadi simbol ketahanan budaya dan semangat kebersamaan yang tak lekang oleh waktu. Kisah Pegon di Jember adalah bukti nyata bahwa warisan masa lalu, jika dirawat dengan cinta dan kebanggaan, akan terus hidup dan bahkan bersinar lebih terang di masa depan, menawarkan pelajaran berharga tentang identitas dan keberlanjutan.








Tinggalkan komentar