Lentera Pos- Banjir bandang yang melanda Situbondo, Jawa Timur, meninggalkan dampak kesehatan bagi warganya. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Situbondo, Dwi Herman Susilo, mengungkapkan bahwa warga terdampak mulai mengeluhkan demam dan gatal-gatal. Keluhan ini muncul sejak didirikannya posko kesehatan darurat pada Jumat (23/1) di Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, wilayah yang paling parah terkena banjir.
Selain demam dan gatal-gatal, beberapa warga juga datang ke posko kesehatan dengan keluhan luka akibat pecahan kaca dan paku yang berserakan saat banjir menerjang rumah mereka. Kondisi ini terutama dialami oleh warga Desa Kalianget dan Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur.

Pendirian posko kesehatan darurat merupakan respons cepat pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan medis bagi korban banjir luapan Sungai Lubawang yang terjadi pada Rabu (21/1) malam. Tenaga kesehatan dari puskesmas terdekat, didukung oleh RSUD Besuki dan Dinas Kesehatan, dikerahkan untuk melayani masyarakat di posko tersebut.

Related Post
"Posko kesehatan darurat akan terus melayani warga korban banjir selama lima hari, mulai hari Jumat (23/1) hingga Selasa (27/1). Jika masih dibutuhkan, kami akan memperpanjangnya atau menyesuaikan dengan kondisi di lapangan," ujar Dwi Herman.
Banjir luapan Sungai Lubawang telah merusak 440 rumah warga Desa Lubawang, yang menjadi salah satu desa terparah terdampak. Desa Kalianget juga mengalami dampak signifikan dengan 246 rumah terdampak. Selain itu, banjir juga meluas ke Kecamatan Besuki, merusak 5.425 rumah yang tersebar di Desa Pesisir, Kalimas, Demung, dan Besuki.
Hujan deras pada Rabu (21/1) menyebabkan sejumlah sungai meluap dan menggenangi 113 rumah di Desa Mlandingan Wetan, Kecamatan Bungatan, serta 169 rumah di Desa Selomukti, Kecamatan Mlandingan. Di Desa/Kecamatan Kendit, 154 rumah juga terdampak banjir.
Dinkes Situbondo terus berupaya memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi warga terdampak banjir. Keberadaan posko kesehatan darurat diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat dan mencegah penyebaran penyakit pasca-banjir.










Tinggalkan komentar