lenterapos.com – Fenomena anak yang mengalami tantrum di ruang publik sering kali memicu reaksi beragam dari orang-orang di sekitarnya. Mulai dari tatapan sinis, bisik-bisik tetangga, hingga penghakiman terhadap cara mendidik orang tua. Padahal, bagi anak dengan kebutuhan khusus atau neurodivergen, perilaku tersebut merupakan respons alami terhadap lingkungan. Menanggapi hal ini, penyelenggara Special Kids Expo (SPEKIX) 2026 menyerukan pentingnya menumbuhkan rasa empati di tengah masyarakat agar tercipta lingkungan yang lebih inklusif.
Wakil Ketua Dewan Pelaksana SPEKIX, Zavnura Pingkan, mengungkapkan bahwa tekanan sosial yang muncul saat anak menunjukkan perilaku tidak biasa di tempat umum menjadi beban psikologis yang sangat berat bagi orang tua. Selama ini, banyak orang tua merasa malu atau merasa gagal dalam mengasuh anak ketika anak mereka berteriak atau menangis kencang di tengah keramaian.

"Harapannya, inklusi bisa terus berkesinambungan dan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang aneh atau perlu dipandang secara sinis. Kita harus bisa hidup berdampingan tanpa membuat orang tua merasa bersalah hanya karena anaknya bereaksi terhadap lingkungan," ujar Zavnura saat ditemui di sela-sela acara SPEKIX 2026 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Sabtu.

Related Post
Zavnura menekankan bahwa langkah awal yang paling krusial adalah membangun kesadaran publik mengenai keberagaman cara kerja saraf otak atau neurodiversity. Masyarakat perlu memahami bahwa perilaku seperti gerakan berulang, menangis histeris, atau berteriak pada anak dengan spektrum autisme bukanlah bentuk kenakalan atau kegagalan pola asuh. Sebaliknya, hal tersebut adalah cara otak mereka merespons rangsangan lingkungan yang berlebihan atau sensory overload.
Dengan adanya pemahaman ini, diharapkan masyarakat dapat memberikan ruang sosial yang lebih ramah. Penerimaan sosial yang wajar akan sangat membantu keluarga dengan anak berkebutuhan khusus agar mereka tidak merasa perlu mengisolasi diri dari kehidupan sosial. Jika lingkungan sudah mendukung, orang tua tidak akan lagi merasa ragu atau takut untuk mengajak anak-anak istimewa mereka berinteraksi di ruang publik.
Zavnura berharap budaya inklusif ini dapat diterapkan secara nyata di berbagai fasilitas umum, mulai dari pusat perbelanjaan, taman kota, hingga moda transportasi publik. Prinsip utamanya adalah merayakan perbedaan; bahwa menjadi berbeda itu adalah hal yang manusiawi.
"Kita harus tahu bahwa ada yang namanya neurodiversity, bahwa setiap individu itu tidak sama. Berbeda itu tidak apa-apa," pungkasnya. Melalui gerakan empati ini, diharapkan tidak ada lagi sekat sosial yang membuat keluarga dengan anak berkebutuhan khusus merasa terasing di tengah masyarakat.








Tinggalkan komentar