Lentera Pos- Dinamika ekonomi Indonesia kembali menggeliat dengan serangkaian kabar penting yang mencuri perhatian sepanjang Rabu (18/2) dan masih hangat diperbincangkan hingga Kamis pagi ini. Dari progres pembangunan koperasi di pelosok negeri hingga keputusan strategis terkait status perusahaan raksasa BUMN, setiap perkembangan mengindikasikan arah kebijakan pemerintah dalam menopang pertumbuhan dan stabilitas.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengumumkan pencapaian signifikan dalam program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih. Sebanyak 1.000 unit Kopdes telah rampung dibangun, dari target ambisius 80 ribu unit. Ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan komitmen untuk menggerakkan roda ekonomi akar rumput. Hingga Februari 2026, hampir 20 ribu unit lainnya sedang dalam proses pembangunan, dengan progres fisik rata-rata mencapai 20 persen. Akankah target ambisius ini tercapai dan benar-benar mengubah wajah pedesaan Indonesia?

Di tengah sorotan publik terhadap angka utang negara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan jaminan. Ia menegaskan bahwa posisi utang Pemerintah Indonesia tetap dalam batas aman, meskipun nominalnya meningkat. Tercatat, hingga 31 Desember 2025, total utang pemerintah mencapai Rp9.637,90 triliun, atau setara 40,46 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini, menurut Purbaya, masih dalam koridor yang sehat dan terkendali. Bagaimana pemerintah memastikan utang ini produktif dan tidak membebani generasi mendatang?

Related Post
Dari sektor pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan inisiatif ambisius untuk memperkuat pasokan daging nasional. Target investasi peternakan sapi skala raksasa di Kalimantan Tengah diproyeksikan mencapai populasi hingga 200 ribu ekor. Proyek ini dirancang sebagai ekosistem usaha terintegrasi, yang diharapkan mampu mempercepat swasembada daging dan susu secara berkelanjutan. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan, langkah ini krusial untuk membangun sentra peternakan modern berbasis kemitraan. Mampukah Kalteng menjadi lumbung daging nasional yang sesungguhnya?
Menjelang musim mudik Lebaran 2026, persiapan matang telah dilakukan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan sebanyak 255 unit kapal siap beroperasi untuk mendukung kelancaran angkutan Lebaran. Dengan kapasitas angkut yang fantastis, 6,15 juta penumpang dan 770 ribu kendaraan melalui 15 lintas penyeberangan nasional, pemerintah berupaya maksimal menjamin keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran mobilitas masyarakat. Tantangan apa saja yang masih harus diantisipasi di tengah lonjakan mobilitas ini?
Terakhir, salah satu keputusan yang menarik perhatian adalah pengembalian status Persero (Perusahaan Perseroan) bagi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA). Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), Dony Oskaria, menjelaskan bahwa langkah ini adalah implementasi dari Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2025. Keputusan ini melibatkan penyesuaian hak istimewa Saham Seri A Dwiwarna pada BUMN yang dikantongi oleh Badan Pengaturan (BP) BUMN. Langkah ini menggarisbawahi upaya pemerintah dalam restrukturisasi dan penguatan BUMN strategis. Apa dampak jangka panjang dari penyesuaian status ini terhadap kinerja dan nilai strategis kedua perusahaan raksasa tersebut?
Rangkaian berita ekonomi ini menunjukkan dinamika yang kuat dan upaya berkelanjutan pemerintah dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan di berbagai sektor. Dari pemberdayaan ekonomi desa, pengelolaan fiskal, ketahanan pangan, hingga kesiapan infrastruktur dan tata kelola BUMN, setiap langkah strategis patut dicermati dampaknya bagi masa depan ekonomi Indonesia.








Tinggalkan komentar