Lentera Pos- Meulaboh – Pertarungan sengit melawan si jago merah di Aceh Barat menunjukkan titik terang. Tim gabungan penanggulangan bencana berhasil memadamkan api yang melahap 23,4 hektare lahan dari total 50,2 hektare yang terbakar. Ini merupakan pencapaian signifikan di tengah upaya keras mengendalikan bencana yang telah melanda sejumlah titik di kabupaten tersebut. Namun, tantangan belum usai; sisa 26,8 hektare lahan masih aktif terbakar dan menjadi fokus utama operasi pemadaman.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Aceh Barat, Teuku Ronald, pada Kamis lalu di Meulaboh, menegaskan bahwa perjuangan tim masih terus berlanjut. "Saat ini luas lahan yang terbakar tersisa 26,8 hektare. Upaya pemadaman masih terus dilakukan bersama dengan tim gabungan," ujarnya, memberikan gambaran jelas mengenai skala operasi yang belum tuntas. Pernyataan ini bukan sekadar laporan angka, melainkan cerminan dari dedikasi tanpa henti para petugas di garis depan yang berhadapan langsung dengan ancaman api.

Keberhasilan pemadaman tersebar di beberapa kecamatan, menunjukkan koordinasi yang efektif. Di Kecamatan Johan Pahlawan, api berhasil dikendalikan di Desa Suak Raya seluas 7 hektare, Desa Lapang (Ujong Beurasok) 5 hektare, dan Desa Suak Nie 4 hektare. Sementara itu, di Kecamatan Meureuboh, Desa Alue Peunyareng seluas 1 hektare dan Desa Ujong Tanoh Darat 0,5 hektare juga telah berhasil diamankan. Kecamatan Woyla turut mencatat keberhasilan di Desa Aron Baroh (0,5 hektare) dan Desa Blang Luah (3,9 hektare), ditambah Desa Meunasah Rambot di Kecamatan Kaway XVI seluas 1,5 hektare.

Related Post
Meski demikian, beberapa titik api masih menjadi prioritas utama pemadaman. Di Kecamatan Johan Pahlawan, Desa Suak Raya masih menyisakan sekitar 3,5 hektare, Desa Suak Nie 6 hektare, dan Desa Lapang 4,5 hektare yang belum padam. Di Kecamatan Meureuboh, Desa Ranto Panyang Timur seluas 2 hektare memerlukan perhatian khusus, begitu pula Desa Meunasah Rambot di Kecamatan Kaway XVI dengan 6,5 hektare yang masih membara. Tak ketinggalan, Desa Peulanteu, Kecamatan Bubon, juga masih menghadapi kebakaran seluas 4,2 hektare. Perjuangan melawan elemen alam ini masih jauh dari kata selesai, menuntut kesabaran dan strategi yang matang.
Ronald menjelaskan bahwa meluasnya area yang terbakar di Aceh Barat disebabkan oleh beberapa faktor krusial. Titik-titik api yang terus bertambah dan menyebar, ditambah dengan kecepatan angin yang kencang di lokasi kejadian, menjadi pemicu utama penyebaran api yang tak terkendali. Kondisi geografis dan cuaca ekstrem seringkali menjadi musuh tak terlihat yang mempersulit setiap operasi pemadaman, mengubah lahan kering menjadi bahan bakar yang mudah tersulut.
Dengan semangat pantang menyerah, tim gabungan terus berupaya keras untuk menuntaskan sisa kebakaran. Harapan besar tertumpu pada koordinasi yang solid dan dukungan semua pihak agar seluruh lahan di Aceh Barat dapat kembali pulih dari ancaman si jago merah, serta mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.










Tinggalkan komentar