Lentera Pos- Di tengah teriknya kemarau, hamparan hijau tebu di Jawa Timur bukan sekadar pemandangan lazim lahan pertanian. Lebih dari sekadar komoditas, setiap batang tebu menyimpan narasi kompleks tentang ketahanan pangan, warisan industri, perjuangan petani, dan ambisi besar bangsa untuk meraih kedaulatan gula, melepaskan diri dari belenggu impor.
Deretan truk pengangkut tebu yang tak henti mengular menuju pabrik-pabrik gula di berbagai penjuru Jawa Timur—dari Kediri hingga Magetan—adalah simfoni kebangkitan. Mesin giling meraung tanpa henti, sirene pabrik memecah kesunyian, dan para petani menanti hasil rendemen dengan harap. Ini adalah gambaran nyata dari upaya kolektif menuju swasembada yang diidamkan.

Tak dapat dimungkiri, Jawa Timur tetap menjadi episentrum produksi gula nasional. Lebih dari separuh pasokan gula Indonesia berasal dari bumi Majapahit ini. Proyeksi produksi gula kristal putih pada tahun 2025 yang mencapai 1,34 juta ton—angka tertinggi dalam satu dekade—menjadi bukti dominasi provinsi ini. Pencapaian ini jauh melampaui kontribusi daerah lain, memperkuat posisi Jawa Timur sebagai pilar utama ketahanan gula.

Related Post
Tak heran jika optimisme pemerintah pusat menguat, menjadikan Jawa Timur sebagai tulang punggung ambisi swasembada gula konsumsi nasional pada 2026. Program peremajaan tebu atau ‘bongkar ratoon’ pun digalakkan secara masif di berbagai daerah seperti Kediri, Probolinggo, Magetan, dan Malang, sebagai upaya serentak untuk memperluas lahan dan mendongkrak produktivitas.
Namun, sejarah panjang industri gula di Indonesia mengajarkan sebuah pelajaran berharga: swasembada bukanlah sekadar euforia panen raya atau deru mesin pabrik yang tak henti. Permasalahan mendasar seringkali jauh lebih kompleks, tersembunyi di balik statistik produksi yang menggiurkan. Ini adalah tantangan multidimensional yang membutuhkan lebih dari sekadar semangat.
Industri gula nasional kini berada di persimpangan jalan, diapit oleh semangat modernisasi dan warisan masa lalu. Di satu sisi, ada visi besar negara untuk mencapai efisiensi dan produktivitas tinggi. Di sisi lain, banyak pabrik gula di Jawa Timur masih beroperasi dengan infrastruktur peninggalan kolonial yang usianya menua, membatasi laju efisiensi.
Meskipun upaya revitalisasi telah digalakkan, tantangan fundamental belum sepenuhnya teratasi. Angka rendemen tebu yang masih berkisar 7 hingga 8 persen di beberapa pabrik, misalnya, menunjukkan bahwa dari setiap 100 kilogram tebu yang digiling, hasil gula yang didapat masih tergolong minim. Ini adalah indikator krusial yang perlu diperbaiki.
Oleh karena itu, kunci untuk mendongkrak produktivitas terletak pada serangkaian intervensi strategis: mulai dari penggunaan bibit unggul, peremajaan tanaman secara berkala, hingga peningkatan efisiensi proses penggilingan di pabrik. Potensi optimasi masih sangat besar, baik di hulu (kebun) maupun hilir (pabrik). Kadar gula dalam batang tebu, yang menjadi penentu utama rendemen, sangat dipengaruhi oleh beragam faktor seperti kondisi cuaca, kualitas bibit yang ditanam, sistem irigasi yang memadai, dan ketepatan waktu pengangkutan tebu dari kebun ke pabrik.
Dalam konteks inilah program ‘bongkar ratoon’ menjadi sangat krusial. Tanaman tebu yang dibiarkan terlalu lama tanpa peremajaan akan mengalami penurunan drastis dalam produktivitasnya. Pemerintah kini gencar mendorong adopsi varietas unggul yang tidak hanya lebih tahan terhadap kondisi kekeringan, tetapi juga menjanjikan kadar gula yang lebih tinggi, demi mewujudkan mimpi manis kedaulatan gula Indonesia.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan), didampingi Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara Mahmudi (kanan), secara simbolis memimpin penanaman tebu perdana dalam program ‘bongkar ratoon’ di Desa Ngletih, Kediri. Kegiatan pada Sabtu (23/5/2026) ini merupakan bagian dari upaya serentak di 15 titik di 11 kabupaten untuk menyediakan bibit tebu unggul demi mewujudkan swasembada gula nasional. (lenterapos.com/Prasetia Fauzani)






Tinggalkan komentar