Lentera Pos- Jakarta, Indonesia memiliki permata sejarah yang terus bersinar, terutama saat perayaan Natal dan Tahun Baru. Gereja Tugu, sebuah situs ibadah berusia lebih dari tiga abad di Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, bukan sekadar bangunan tua; ia adalah penjaga tradisi hidup yang memadukan spiritualitas dengan warisan budaya yang kaya. Di tengah hiruk pikuk modernitas, gereja ini dengan bangga mempertahankan ritual uniknya, mulai dari alunan keroncong yang melegenda hingga tradisi "Mandi-Mandi" yang penuh kebersamaan, menjadikannya magnet bagi mereka yang mencari pengalaman Natal yang berbeda dan mendalam.
Musik keroncong, khususnya Keroncong Tugu, menjadi denyut nadi setiap ibadah di sini. Penatua Gereja Tugu, George Letwory, menjelaskan bahwa sejak awal berdirinya pada tahun 1676-1678, keterbatasan instrumen musik mendorong jemaat untuk mengadopsi keroncong sebagai iringan utama. "Dulu itu pasti keroncong banget mereka. Karena enggak ada keyboard, jadi musiknya pasti keroncong," kenang George, merujuk pada masa lampau yang membentuk identitas musikal gereja ini. Meskipun kini instrumen modern telah masuk, esensi keroncong tetap dipertahankan, bahkan diintegrasikan secara harmonis dalam kebaktian, menciptakan perpaduan klasik dan kontemporer yang memukau dan tak lekang oleh zaman.

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) ini adalah saksi bisu perjalanan sejarah Jakarta. Didirikan oleh komunitas keturunan Portugis, ia sempat hancur akibat peristiwa pemberontakan pada 1740, namun bangkit kembali berkat bantuan seorang tuan tanah bernama Yustinus Vinck, dan diresmikan ulang pada 1748. Nama "Tugu" sendiri, menurut catatan Pemkot Jakarta Utara, berasal dari kesulitan masyarakat Betawi kala itu melafalkan "Portugis." Dari Katolik menjadi Protestan seiring pergantian kekuasaan kolonial, gereja ini adalah simbol ketahanan iman dan adaptasi budaya yang luar biasa.

Related Post
Menjelang Natal, jemaat Gereja Tugu merayakan tradisi "Rabo-Rabo." Erni Michicis, Penasehat Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT), menjelaskan bahwa ritual ini, yang dalam bahasa Portugis berarti "ekor," adalah bentuk silaturahmi khas yang mirip dengan tradisi Lebaran umat Muslim. Mengutip Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, setelah ibadah gereja yang semarak dengan musik dan tarian, warga Tugu akan beramai-ramai mengunjungi rumah tetangga dan kerabat, saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan dalam suasana penuh kegembiraan.
Puncak perayaan tahun baru di Kampung Tugu adalah ritual "Mandi-Mandi," yang biasanya digelar pada minggu pertama Januari. Ini adalah momen unik di mana warga saling mencorengkan bedak putih ke wajah satu sama lain, bukan sekadar permainan, melainkan simbol pembersihan diri dan saling memaafkan untuk menyambut lembaran baru. Suasana kebersamaan yang hangat ini selalu diiringi alunan Keroncong Tugu, menambah kekhasan tradisi yang tak ditemukan di tempat lain, jauh berbeda dengan festival warna-warni di belahan dunia lain, namun sarat makna.
Meski kaya akan tradisi budaya, George Letwory menegaskan bahwa fokus utama perayaan Natal dan Tahun Baru adalah ibadah. "Kalau kita Natalan, itu khususnya kita ke gereja. Diutamakan ke gereja. Gereja dulu, malam Natal, siang Natal kita ke gereja," ujarnya. Dengan perpaduan sejarah, musik, dan ritual komunal yang kuat, Gereja Tugu bukan hanya pusat spiritual, tetapi juga cagar budaya yang hidup, menawarkan pengalaman wisata religi yang mendalam dan menjadi pengingat akan kekayaan mozaik budaya Indonesia. Tradisi-tradisi ini, yang akan kembali digelar pada awal Januari, adalah bukti nyata bagaimana warisan leluhur terus dijaga dan dirayakan dari generasi ke generasi, menjadikan Gereja Tugu sebuah ikon yang tak hanya bersejarah, tetapi juga terus berdenyut dengan kehidupan.










Tinggalkan komentar